Pengalaman Hidup Seorang Vegetarian

Tahun ini—2008 adalah tahun ketujuh dimana saya menjalani diet vegetarian, tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saya yang saya ceritakan sejujur-jujurnya untuk memberikan inspirasi kepada Anda semua tentang manfaat nyata diet vegetarian dan bagaimana saya sebagai seorang biasa memulai dan menjalaninya.

Anda mungkin berpikir bahwa seorang vegetarian pada umumnya adalah orang yang memang tidak suka makan daging atau sangat menyayangi hewan. Bila itu yang Anda pikirkan: Anda salah! Hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Saya menghabiskan 20 tahun kehidupan saya sebagai seorang pemakan daging. Entah sejak umur berapa saya bahkan hampir tidak menyentuh sayuran sama sekali, hanya 2-3 jenis sayuran yang bisa masuk ke mulut saya. Saya juga bukan orang yang mudah tersentuh oleh adegan kekejaman hewan yang ada di depan saya.

Namun segalanya mulai berubah ketika memasuki usia remaja, saya mulai merasa bahwa memakan daging bukanlah hal yang baik bagi saya. Memasuki masa kuliah, saya suka membaca berbagai buku-buku dari berbagai latar belakang agama, filsafat dan kebijaksanaan, yang makin menguatkan tekad saya bahwa saya ingin bervegetarian. Beruntung saya dilahirkan di era teknologi informasi yang begitu maju. Meskipun dengan fasilitas ala kadarnya, hanya melalui warnet-warnet yang ada di sekitar kos, saya berusaha mencari informasi mengenai vegetarian di internet. Ternyata fakta-fakta yang saya temukan sangatlah mengejutkan, saya menemukan begitu banyak manfaat kesehatan yang diperoleh dari diet vegetarian, saya menemukan begitu banyak orang-orang cerdas, penemu-penemu hebat, dan pemikir-pemikir besar masa lalu yang ternyata juga memilih vegetarian sebagai pilihan diet mereka. Kemudian saya juga mengerti bagaimana pola makan vegetarian menghemat sumber daya alam di planet ini secara sangat luar biasa signifikan sekali! Dan yang menjadi motivasi terkuat saya untuk bervegetarian adalah: saya tidak bisa menutup mata dan telinga saya atas kekejaman hewan yang terjadi setiap hari di luar sana, di peternakan-peternakan dan tempat pemotongan hewan. Saya tidak bisa tenang membayangkan ada jutaan hewan yang harus mengakhiri hidupnya dengan segala teriakan ketakutan dan kengerian hanya demi memuaskan keinginan lidah saya. Bila Anda belum pernah melihat video dan investigasi praktek peternakan, cobalah untuk melihatnya sekali-sekali, Anda akan mengerti apa yang saya bicarakan. Sir Paul McCartney (mantan personil band “The Beatles”) menggambarkannya dengan kata-kata yang terkenal hingga kini: “Bila rumah pemotongan hewan berdinding kaca, semua orang akan menjadi vegetarian.” Sejak itulah saya membulatkan tekad untuk menjadi vegetarian.

Saya lahir dan besar di Balikpapan, kemudian hidup sebagai anak kos di Surabaya. Saya hidup di kos dengan fasilitas yang sangat minim, tidak punya kendaraan, TV, koran, bahkan kos saya tidak menyediakan nasi putih. Kesibukan kuliah, tidak adanya nasi putih, dan minimnya kemampuan memasak membuat saya memilih untuk membeli makanan dari luar. Lantas bagaimana saya menyiasati bervegetarian di saat itu? Yang saya lakukan adalah memilih menu-menu yang memang bebas dari daging, misalnya pecel dan gado-gado. Sebagai variasi, saya juga sering memesan nasi campur yang lauk pauknya bisa saya pilih. Dengan begitu saya bisa memilih tahu-tempe dan sayur mayur lainnya tanpa daging untuk saya. Saya juga memesan nasi goreng, nasi capcay tanpa daging dan telur. Pada dasarnya yang kita butuhkan hanyalah kecermatan untuk memodifikasi menu yang sudah ada.

Yang senantiasa saya perhatikan untuk keseimbangan menu adalah konsumsi yang variatif. Perhatikanlah sumber protein (berasal dari tahu tempe), dan vitamin-mineral (berasal dari sayur dan buah-buahan). Saya tidak membuat daftar gizi khusus untuk mengatur makanan saya, saya adalah orang praktis dan (sejujurnya) malas untuk melakukan hal-hal seperti itu. Pesan saya adalah jangan malas untuk mengkonsumsi sayur, jangan lupakan tahu-tempe, dan makanlah buah-buahan. Variasikanlah jenis sayur dan buah yang Anda makan semampu Anda. Semakin Anda menjalaninya, semakin mudah bagi Anda nantinya. Saat ini saya sudah menjadi pemakan segala sayur, mulai dari yang berwarna hijau, kuning, jingga, ungu, dan lain-lain. Saya kebetulan pernah mendengar anjuran gizi yang memang menyarankan kita untuk mengkonsumsi sayuran bermacam-macam warna. Tetapi tentu itu bila kondisi memungkinkan. Pada kenyataannya, tidak adanya kendaraan membuat menu makan saya cenderung monoton karena saya hanya bisa mencari makanan di sekitar kos saya. Disaat saya malas mengkonsumsi buah, biasa saya membeli jus-jus buah yang ada disekitar kampus.

Ada yang berkata: “Saya tidak bisa bervegetarian karena biayanya mahal!” Saya harus berkata kepada orang-orang seperti itu bahwa: Anda salah!! Jujur saya datang ke Surabaya dengan dana pas-pasan. Uang kiriman dari orang tua sudah tidak banyak tersisa bila dipotong oleh biaya kos dan kuliah. Tetapi saya justru terbantu karena pola makan saya sangat hemat! Saya masih bisa menyisihkan uang pada akhir bulan untuk keperluan lain karena uang makan saya masih tersisa. Sebagai gambaran, di warung favorit saya dan teman-teman saya. Sekali makan saya hanya menghabiskan uang Rp. 3.500,- untuk seporsi nasi campur dan sebotol susu kedelai. Lauk nasi campur saya adalah tahu/tempe goreng, dan sayurnya saya ganti-ganti sesuai keinginan saat itu, mulai dari sop sayur hingga sayur lodeh. Sementara itu, teman-teman saya biasanya menghabiskan uang antara Rp 5.000,- hingga Rp. 7.000,- untuk sepiring nasi campur dan segelas es teh manis. Terkadang ada beberapa teman yang iri melihat betapa iritnya saya makan, dengan minuman yang lebih baik pula… ;-)

Lantas, apa yang saya rasakan setelah bervegetarian? Kebetulan saya orang yang tidak banyak memperhatikan diri saya sendiri, saya tidak merasa mengalami apa yang orang-orang ceritakan seperti: “Wah, ketika mulai bervegetarian badan saya langsung tambah enteng dan bugar”, atau yang lain berkata: “Awal bervegetarian, tubuh saya terasa agak lemas, tetapi setelah adaptasi beberapa hari, stamina dan ketahanan tubuh saya menjadi jauh lebih baik.” Saya tidak merasakan apapun dalam proses peralihan tersebut. Tetapi saya punya cerita yang menarik:

Sejak kecil, saya bertubuh lemah dan gampang sakit, mulai dari diare, batuk, pilek, dan penyakit-penyakit ringan lainnya. Pernah juga dua-tiga kali terserang penyakit besar yang mengharuskan saya diopname di rumah sakit. Bahkan orang tua saya pernah bercerita bahwa mereka pernah hampir kehilangan saya karena sakit yang parah tersebut (di waktu kecil). Lemahnya tubuh saya menyebabkan sepanjang tahun saya senantiasa mengkonsumsi berbagai obat-obatan, mulai dari obat diare, batuk, pilek, bahkan obat sakit kepala. Dan ketika berangkat ke Surabaya untuk pertama kalinya, saya masih ingat orang tua saya menyiapkan satu tas penuh yang berisi obat-obatan. Sesampainya di kos, saya meletakkan obat-obatan itu di sebuah lemari yang terletak di sudut kamar saya. Pada awal kuliah saya masih sering mengakses lemari tersebut karena gangguan kesehatan memang terus merongrong saya. Sampai kira-kira awal semester empat saya mulai bervegetarian, dan seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya tidak peduli dengan kondisi saya dan terus menjalani kehidupan apa adanya. Sampai kira-kira mendekati kelulusan, di awal semester sepuluh (saya termasuk terlambat lulus dan pernah cuti), saya mencium bau yang tidak enak di kamar kos saya, yang ternyata berasal dari lemari obat di sudut kamar saya tersebut. Ketika saya membukanya, saya baru sadar betapa saya sangat jarang, bahkan dalam satu-dua tahun terakhir itu sudah tidak pernah lagi menyentuh obat-obatan tersebut. Akibatnya lemari tersebut penuh dengan obat kadaluarsa yang akhirnya saya buang semua. Saya menyadari ternyata selama ini saya amat sangat jarang sekali sakit. Saya juga bukan orang yang suka mengkonsumsi obat, karena itu ketika saya sakit sedikit, saya tidak lantas mengkonsumsi obat. Dan ternyata ketahanan dan daya pulih saya terhadap penyakit memang meningkat drastis.

Ada yang pernah bertanya kepada saya. Apakah kamu tidak tergoda ketika melihat makanan daging yang enak-enak di depanmu? Saya jawab jujur: saya tergoda. Pada awal bervegetarian saya juga meneteskan air liur melihat teman-teman yang menikmati berbagai hidangan favorit saya di masa lalu. Saya juga meneteskan air liur ketika melihat iklan-iklan makanan favorit saya di masa lalu yang ditayangkan di televisi maupun di media cetak. Apalagi teknik fotografi dan video zaman sekarang begitu canggih, mereka menampilkan gambar-gambar yang sangat menggoda lidah saya. Tetapi karena waktu itu saya memiliki komitmen dan keteguhan hati, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri. Jangan! Sepotong makanan inilah yang menjadi sumber penyebab penderitaan jutaan makhluk hidup di luar sana, sepotong makanan inilah yang membuat umurmu tambah pendek dan sakit-sakitan, sepotong makanan inilah yang menyebabkan kerusakan parah planet ini, sepotong makanan inilah yang menyebabkan banyak orang-orang kelaparan di luar sana. Dan setelah pertarungan batin tersebut, akhirnya saya tidak jadi menyentuh makanan-makanan tersebut. Pada awalnya, memang komitmen kuatlah yang harus kita miliki. Seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan semakin terbiasa untuk tidak menyentuh daging, dan sekarang saya sama sekali sudah tidak tergoda untuk menyentuh daging.

Kesulitan sesungguhnya yang saya rasakan adalah ketika saya harus beraktifitas bersama teman-teman atau keluarga. Apalagi tujuh-delapan tahun lalu tidak banyak rumah makan dan pesta-pesta yang memberikan opsi menu vegetarian. Akhirnya saya sering tertekan secara mental ketika menghadiri acara-acara makan bersama teman atau keluarga. Sering dari mereka menghina atau berusaha menggoda saya karena di satu pesta seringkali saya tidak menyentuh makanan apapun kecuali makanan penutup, yaitu puding atau buah-buahan. Disaat jatuh dan sedih tersebut, saya terkadang merasa tidak ingin lagi menghadiri pesta-pesta dan undangan dari teman atau keluarga sampai saya akhirnya menguatkan diri saya dengan sebuah pemikiran: Saya harus kuat, justru sayalah yang harus memberikan contoh dan inspirasi bagi orang-orang lainnya. Pandangan aneh yang mereka berikan kepada saya harus saya abaikan, justru pandangan aneh itu akan tertanam dalam benak mereka, mereka akan mulai tahu bahwa ada pola makan yang sehat dan sangat baik bagi planet kita tercinta ini. Untuk memulai sebuah perubahan harus ada pengorbanan, dan saya siap berkorban untuk itu. Lihatlah bagaimana pejuang-pejuang kemanusiaan yang menentang perbudakan, menentang diskriminasi ras dan gender, pejuang hak-hak azasi manusia harus menderita. Bukan terima kasih yang mereka dapatkan, tetapi kadang siksaan dan bahkan sebutir atau dua butir peluru. Tetapi bukankah sekarang kita semua bisa merasakan manfaat dari perjuangan orang-orang seperti itu? Dari sana saya pun mulai bangkit dan tidak banyak peduli dengan apa yang dikatakan orang ketika saya harus hadir di pesta maupun acara makan bersama. Ternyata memang semua itu berbuah. Saya adalah satu-satunya vegetarian di dalam keluarga saya. Namun baru-baru ini akhirnya adik laki-laki saya juga beralih menjadi vegetarian total yang berkomitmen (sampai terharu rasanya), padahal saya tidak pernah memaksakan pandangan ini padanya. Kakak perempuan saya juga mulai banyak mengurangi konsumsi dagingnya. Begitupun teman-teman saya, ada beberapa yang sudah menjadi vegetarian total yang berkomitmen, dan ada yang mulai mengurangi konsumsi dagingnya. Apalagi belakangan ini manfaat vegetarian dari sudut pandang kesehatan dan ekologi terus menjadi topik yang hangat, bahkan beberapa kali sempat dimuat di media-media besar lokal Indonesia.

Karena itu saya mengajak Anda yang ingin mencoba menjadi vegetarian atau pernah menjadi vegetarian, dan pernah mengalami segala tantangan yang hebat dari keluarga maupun lingkungan. Jangan menyerah! Anda sedang melakukan sesuatu yang benar. Jangan juga menjadi seorang ekstrimis, berikanlah pengertian, bukan menciptakan pertentangan yang keras di lingkungan Anda. Untuk Anda ketahui: Saya ditentang habis-habisan ketika saya mulai mengutarakan maksud saya untuk bervegetarian di keluarga saya. Orang tua saya takut saya kekurangan gizi, paman-paman dan nenek saya takut saya menjadi orang aneh yang akan sulit hidup di masyarakat. Mulai dari ketakutan tidak mendapat jodoh sampai kekhawatiran bagaimana saya harus menjalani kehidupan pekerjaan dan menjalin hubungan baik dengan relasi bisnis bila saya adalah seorang vegetarian. Saya tidak menyalahkan mereka. Pertentangan mereka adalah wujud cinta dan kepedulian mereka kepada saya, mereka mengkhawatirkan masa depan saya. Tetapi di lain pihak saya juga tumbuh sebagai manusia dewasa yang tahu apa yang baik bagi saya, bahkan bagi semua orang. Akhirnya saya mulai lebih aktif mencari informasi mengenai vegetarianisme, dan membabarkannya di hadapan keluarga dan teman-teman yang menentang saya. Saya tidak melakukan hal-hal ekstrim yang hanya memperkeruh suasana. Hal paling keras yang saya lakukan hanyalah mengambil sikap tegas, yaitu saya benar-benar menerapkan pola makan vegetarian di rumah (di Balikpapan) maupun di kos dan kampus (di Surabaya). Saya sudah memaparkan semua fakta, hasil riset, dan bukti-bukti ilmiah mengenai manfaat vegetarian, dan sekarang sudah saatnya saya memulai tindakan nyata.

Bervegetarian bukan hanya mengendalikan apa yang Anda makan, tetapi lebih penting lagi Anda juga melatih kepekaan Anda pada lingkungan dan makhluk hidup di sekitar Anda. Jadilah seorang vegetarian yang peka dan mengasihi lingkungan Anda, baik itu keluarga, teman-teman, orang-orang yang kita temui di jalan, hingga saudara-saudara hewan dan tumbuhan yang ada di sekitar kita.

Ingatlah kebijaksanaan berikut ini: Kemenangan terhebat Anda adalah ketika Anda mampu mengalahkan diri Anda sendiri! Tidak ada musuh yang lebih sulit dikalahkan daripada diri Anda sendiri. Lihatlah betapa sulitnya orang berhenti merokok, melepaskan ketergantungan dari obat-obatan terlarang, melepaskan diri dari kecanduan terhadap pornografi, game, dan lain-lain. Tetapi beberapa orang pemberani dan penuh tekad bisa melakukannya, jadilah orang-orang itu, jadilah pemenang sejati! Diet vegetarian bukan hanya baik untuk Anda, tetapi baik untuk anak cucu Anda di masa depan, baik untuk orang-orang lain di dunia yang kelaparan, baik untuk para hewan, baik untuk pemeliharaan sumber daya alam di bumi, bahkan baik untuk menyelamatkan dunia ini dari ancaman krisis iklim.

Bila saya mengingat pola makan saya sejak kecil. Terkadang saya sendiri tidak percaya bagaimana saya berbalik 180 derajat dari seorang yang tidak bisa makan sayur menjadi seperti sekarang ini: Hanya makan sayur!

Semoga tulisan pendek yang akhirnya menjadi sangat panjang ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi yang berguna bagi Anda, untuk memulai sesuatu yang benar, yang akan membuat Anda menjadi pemberani dan makhluk mulia yang sesungguhnya. Yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran saat ini bukanlah superhero dalam kisah fiksi seperti superman, iron man, dan spider man. Tetapi Andalah calon-calon penyelamat dunia ini. Berjuanglah! Dari hati yang terdalam dan setulus-tulusnya: saya ingin mengucapkan TERIMA KASIH….! (—Agus R.)

Catatan: Bila Anda baru pertama kali sampai di blog ini, silahkan download buku Global Warming dan buku-buku lainnya untuk tahu lebih banyak tentang manfaat diet vegetarian bagi kelangsungan hidup kita di masa depan. Buku-buku ini dapat menjadi motivator Anda sekaligus membantu Anda meluruskan pandangan orang-orang di sekitar Anda tentang diet vegetarian. Terima kasih sekali lagi… :-)

14 Tanggapan ke “Pengalaman Hidup Seorang Vegetarian”

  1. obat diare Says:

    Blog yang bermanfaat…

  2. Swanny Says:

    Saya berumur 45th. Saya sudah menjadi vegetarian sekitar 35th, sejak melihat seekor ayam yang disembelih untuk diolah. Dulu orang sering mengatakan saya bodoh karena tidak makan daging. Saat ini orang sering mengira saya berumur 30th apalagi dengan energi yang saya miliki seperti seorang yang berumur jauh lebih muda. Saya tidak mengira bahwa sekarang mulai banyak yang menjadi vegetarian dan dapat membantu “menyelamatkan dunia” dari “global warming”.

  3. adit.robben Says:

    Pengalaman penulis..sangat mirip dengan pengalaman yang saya alami… hampir semuanya..
    Memang sudah saatnya kita berfikir makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.
    Dan saya sudah menjadi vegetarian 8 tahunan. semenjak saya umur 20 tahun.
    Selamat Berjuang Kawan!!

    Save Our Planet!!
    Be Vegetarian!!!

  4. Darwin Xie Says:

    Luar biasa… saya baru saja membaca e-book tentang global warming sebelum saya memabaca blog ini…
    sungguh mengejutkan, bahwa ternyata selama ini pola akan manusia yg banyak mengkonsumsi daging berperan besar dalam proses pemanasan global…
    Semoga orang-orang mulai menyadari hal ini, dan mengubah pola makan mereka, terutama di Amerika Serikat.

  5. Ahi max Says:

    bgs yaaa…..

    aq sudah baca buka GLOBAR WARMING…bgs bgt

    aq msh ber umur 17 thn…
    aq gk pernah makan sayur…tapi aq mw berubah ketika tahu bahwa makan daging gk bgs bgt…hmmm… karena u/ mencegah pemanasan global ….

    moga2 byk orang yg mw barubah ^^

  6. theraboy Says:

    gue sependapat dengan lo, menjadi vegetarian dapat mencegah atau menghambat terjadinya global warming.

    Alasannya : liat di blog gue..
    isikepalague.wordpress.com

    tukeran blogroll ya !

    thx.. ^^

  7. indy Says:

    wah pengalamannya hampir sama..

    saya memang baru 6 bulan vegetarian, alasannya sebenarnya agak lucu, waktu menjelang Idul Addha tahun kemarin saya baca berita tentang artis Indonesia yang mempunyai kambing peliharaan yang akan dikurbankan, & artis tersebut melihat bahwa pada hari menjelang disembelih kambing itu menatap ke arahnya & meneteskan air mata..
    membaca berita itu membuat saya menangis tersedu2 (mungkin berlebihan ya) tapi itulah turning point saya sehingga menjadi vegetarian..

    saya baru mengetahui pada saat itu bahwa hewan juga memiliki perasaan & rasa sakit.. karena sangat banyak orang berpendapat, bahwa hewan “senang & merasa berguna” apabila dibunuh demi kebaikan manusia. & setelah membaca berita itu saya tahu bahwa tak benar keadaannya seperti itu, apalagi setelah menonton video2 penyiksaan & pemotongan hewan, menunjukkan bahwa mereka berteriak & memberontak..

    sama seperti anda, saya pun sering diejek teman2. dari dibilang bawel lah (karena kalau kumpul2 untuk masak2 & ada saya, saya pasti pesan agar kami memasak menu sayuran), & juga terus diprovokasi bahwa hewan memang tercipta untuk kita makan. pernah saya pusing kepala & teman menganjurkan bahwa sebaiknya saya kembali memakan daging, namun untungnya saya bertahan pada keputusan saya.

    namun syukurlah sampai sekarang saya masih bertahan & saya harap untuk seterusnya..

    dengan keterbatasan saya, saya berusaha sharing link2 video ttg vegetarian di facebook, & juga membuat note2 ttg vegetarian.. semoga usaha saya berguna, bagi planet kita tercinta ini.

  8. lucky Says:

    so great..menambah semangat saya untuk menjadi pure vegetarian karena sudah 2 bulan ini juga saya sudah tidak memakan segala bentuk macam daging…
    give me spirit by this blog

  9. Karin Says:

    Saya masih umur 16. Susah2 gampang coba jd vegetarian. Klo sy sih susah cari makan. Krn menghindari daging jd mkn nasi gr, mie gr gt. (Fyi, sy cari mkn sendiri tiap hari). Blm lagi menghadapi mama sy yg takut gizinya ga baik klo ga makan daging lha dll. Jd saya tetep mkn daging klo di dpn mama sy. (sy tdk tgl dgn mama sy). Hahahaha. Tp lama kelamaan jg mama sy pasti akan ngerti, cmn tinggal tunggu waktu aja. Setidaknya baca blog ini lebih membulatkan tekad sy, dan membuktikan bahwa sy bertindak benar.

  10. reki Says:

    Saya telah berumur 34 th & sejak 2 bulan lalu melakukan diet vegetarian bahkan lebih ke raw food (bukan olahan). Makanan utama saya adalah timun, tomat & slada. Saya tidak membatasi porsi makan saya, asal menunya hanya ketiga varian itu. Hasilnya berat badan 98 kg sekarang telah turun menjadi 81 kg & saya bertekad harus terus turun hingga saya memiliki bobot ideal yaitu sekitar 67 kg. Jalan saya masih panjang tetapi alangkah senagnya jika ada teman yg juga turut memberikan semagat dalam mempertahankan komitmen & konsistensi saya ini.

  11. MIAMI Says:

    Hi fren…
    pengalaman penulis sangat mirip dengan perjuangan menjalani pola makan vegetarian, sekitar 7 tahun lamanya…
    ini semakin membuat bisa bersemangat dalam menjalani pola hidup ini…
    Maju terus pantang mundur ya Bro…
    Go green be health..
    Salam vegie,
    Miami

  12. Desi Says:

    hii frenzz,..
    GOng xi kamu udah jadi seorang vegetarian,….
    menjadi seorang Vegetarian adalah sebuah pilihan yang tepat..
    dengan vegetarian kita dapat menyelamatkan Dunia ini….
    Jia you,….
    Semoga nanti nya dunia bisa menjadi dunia vegetarian,..
    go go go vegetarian

  13. mega Says:

    sharing yang sangat bagus, semoga teman2 yg belum bervegetarian dapat menyadari andil diet vegetarian
    bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk bumi kita tercinta…
    Go Veggie
    Go Green… ^^


Tinggalkan Balasan